Kesempatan perempuan untuk mengenyam pendidikan harus ditingkatkan. Ini bukan hanya upaya untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), tetapi juga bertujuan untuk mengakhiri kemiskinan, mengurangi ketimpangan dan melindungi lingkungan.

Seperti kata pepatah, anak yang cerdas berasal dari ibu yang cerdas. Oleh karena itu, perempuan dituntut memiliki kecerdasan dan wawasan yang dalam agar dapat diajarkan kepada anak-anaknya.

Padahal, banyak perempuan di tanah air saat ini tidak mengenyam pendidikan yang memadai.

Menurut data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) tahun 2016, perempuan saat ini hanya mendapat pelatihan hingga kelas 2 Sekolah Menengah Pertama (SMP). Rata-rata waktu sekolah perempuan hanya 7,5 tahun.

Selain itu, data Badan Pusat Statistik (BPS) 2019 menunjukkan angka melek huruf perempuan 94,33 persen lebih rendah dibandingkan laki-laki, sedangkan laki-laki 97,48 persen.

Hal itu terungkap dalam webinar bertajuk “Mencerdaskan Perempuan, Mencerdaskan Kehidupan Bangsa”, yang diselenggarakan oleh Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Kementerian Pemajuan Perlindungan Perempuan dan Anak, dan Kompas TV pada Senin, 12 Desember 2018. /2020).

Dapatkan informasi, inspirasi, dan wawasan di email Anda.
email pendaftaran

Webinar yang diadakan sebagai bagian dari Hari Ibu ini melihat peran pendidikan bagi perempuan Indonesia.

Keluarga khususnya ibu merupakan garda terdepan dalam penyelenggaraan pendidikan bagi seorang anak sebelum mereka memasuki sekolah formal.

Untuk itu, Sri Rossyati dan Sri Irianingsih, saudara kembar yang menjadi pembicara dalam acara tersebut, mendirikan sekolah yang diberi nama Sekolah Darurat Kartini.

Sekolah ini didirikan 30 tahun lalu untuk membantu anak-anak kurang mampu dan terpinggirkan.

“Sekolah ini didirikan untuk mendukung program pendidikan di Indonesia. Orang-orang yang terpinggirkan memiliki siklus kawin muda. Karena itu, mereka kesulitan untuk melanjutkan pendidikan. Jadi kami ingin membantu mereka melalui pendidikan dan memutus mata rantai kemiskinan,” ujar Sri Rossyati yang akrab disapa Rossi.

Sri Irianingsi atau biasa disapa Rian menambahkan, sekolah yang ia dirikan bersama saudara kembarnya itu bukan hanya untuk anak-anak.

“Kami juga memeluk ibu-ibu siswa. Ini dilakukan karena kami ingin memperkuat mereka juga. Setiap hari Jumat kami (mereka) berkumpul untuk mengaji. Kemudian kami mengajarkan keterampilan yang berbeda,” jelas Rian.

Selain itu, modal kerja diberikan kepada ibu atau wali setelah lulus sekolah agar mereka dapat mewariskan keterampilan yang telah dipelajari.

Modal tidak ada dalam bentuk uang, tetapi berupa alat-alat penunjang tenaga kerja, seperti mesin jahit

dan alat-alat untuk membatik.

Cerita lain

Narasumber lainnya, Astatic Bestari, penggagas Pusat Pembelajaran Masyarakat (PKBM) Bestari, melakukan hal yang sama untuk membantu masyarakat Desa Catakgayam, Jombang, Jawa Timur.

Pusat pembelajaran yang digagasnya bertujuan untuk mendidik lulusan sekolah dasar. PKBM kemudian mendapat pengakuan dan dukungan pemerintah atas program pemberantasan buta huruf.

Namun demikian, perempuan tidak tertarik untuk mengikuti program pembelajaran.

“Mereka menganggap pendidikan tinggi tidak lebih penting dari pekerjaan. Kami ingin mengubah itu, kami ingin membantu mereka ketika pendidikan sangat penting, ”katanya.

Astatic berdiri sejak tahun 2008 dan mengakui bahwa PKBM Bestari tidak bisa melakukan semuanya sendiri. Oleh karena itu, pihaknya menjalin kerjasama dengan berbagai pihak agar kegiatan pembelajaran ini dapat digalakkan secara maksimal.

Dia juga mengatakan perlu ada perubahan dalam sistem dan dukungan pemerintah sekarang untuk meningkatkan pendidikan perempuan, terutama di daerah pedesaan.

“Saya sangat berharap ke depan perempuan (desa) harus lebih banyak belajar dan dididik. Karena pemahaman saja tidak cukup. Harus berjuang agar sistem yang ada didengar, bukan sekedar wacana dan tidak dipolitisasi,” kata Astatic

Selain itu, menurutnya, selama ini perempuan Indonesia belum bisa berbuat banyak karena masih kentalnya sistem patriarki negara.

Hal ini ditegaskan oleh narasumber lain, yaitu Kiai Haji Husein Muhammad, seorang ulama yang memperjuangkan kesetaraan dan keadilan gender.

Menurutnya, sistem patriarki sangat memberatkan perempuan, terutama bagi mereka yang sudah menikah. Kondisi ini dikatakan membatasi ruang gerak perempuan.

“Itu mengarah pada dominasi. Padahal (perkawinan) harus dilandasi rasa saling melengkapi. Bukan laki-laki yang merasa dominan. Wanita hanya diminta untuk

LIHAT JUGA :

indonesiahm2021.id
unesa.id
unimedia.ac.id
politeknikimigrasi.ac.id
stikessarimulia.ac.id
ptsemenkupang.co.id